Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang
Sep2023
Dibuka
7.067 Kali
Terdapat beberapa versi mengenai asal-usul nama Desa Mojokrapak.
Menurut salah satu sumber sejarah, kata "Mojo" berasal dari sebutan pasukan Kerajaan Majapahit, sedangkan "Krapak" atau "Rapak-rapak" berarti berbaris atau berjajar.
Kisah ini dikaitkan dengan perang antara pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Mahapatih Nambi dan Lembu Suro melawan pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Ranggalawe, seorang mantan panglima Kerajaan Majapahit. Pada masa awal berdirinya Majapahit, Ranggalawe tersisih akibat konspirasi politik dan hanya menjadi penguasa wilayah kecil di pesisir Tuban.
Dalam pertempuran tersebut, pasukan Ranggalawe mengalami kekalahan. Ranggalawe sendiri dikisahkan gugur di Sungai Tambakberas (yang kini berada di sekitar makam KH. Wahab Chasbullah). Setelah kemenangan itu, sisa pasukan Ranggalawe diperintahkan berbaris di sepanjang jalan, sementara pasukan Majapahit mengawal mereka dengan formasi berbaris rapi (rapak-rapak). Jalan yang menjadi lokasi peristiwa tersebut dipercaya sebagai cikal bakal Jalan Raya Mojokrapak.
Versi lain menyebutkan bahwa nama Mojokrapak berasal dari kata:
Konon pada masa lalu, sepanjang wilayah desa banyak ditumbuhi pohon maja yang tumbuh berjajar rapat dan rindang. Karena itulah daerah tersebut kemudian dikenal sebagai Mojokrapak.
Jejak pohon maja masih dapat ditemukan di sekitar area makam Dusun Krapak. Bahkan dahulu terdapat dusun bernama Mojokerep, yang kini berubah menjadi Dusun Bulak. Namun hingga saat ini belum ditemukan sumber yang menjelaskan alasan perubahan nama tersebut.
Masyarakat mengenalnya dengan sebutan Mbah Gandul. Rumah beliau konon berada di Dusun Sugihwaras (Garas).
Tidak diketahui secara pasti kapan beliau mulai memimpin Desa Mojokrapak. Menurut cerita para sesepuh, beliau ditunjuk langsung oleh Adipati Jombang sebagai kepala desa.
Dalam menjalankan pemerintahan, beliau dibantu oleh seorang Carik (Sekretaris Desa), yaitu:
Setelah Mbah Singorejo wafat, jabatan Carik digantikan oleh:
Pergantian ini dilakukan melalui pemilihan, yang dipercaya sebagai proses demokrasi pertama di Desa Mojokrapak. Pada masa itu belum ada balai desa sehingga pusat pemerintahan masih berada di rumah para pejabat desa.
Setelah wafatnya Lurah Gandul, jabatan kepala desa sempat kosong cukup lama. Oleh karena itu, diadakan pemilihan kepala desa pertama dalam sejarah Mojokrapak.
Pemilihan dilakukan secara sederhana menggunakan sistem tradisional yang dikenal dengan istilah gethok-gethok uwi.
Somojoyo Prawiro terpilih sebagai Kepala Desa Mojokrapak pada usia 69 tahun. Sebelumnya beliau telah menjabat sebagai Carik selama 15 tahun.
Pada masa ini terjadi beberapa pergantian jabatan Carik:
Pemilihan Carik tahun 1966 diikuti oleh delapan calon dan menggunakan sistem pemungutan suara dengan memasukkan paku ke dalam bumbung bambu yang mewakili masing-masing calon.
Pada masa kepemimpinan Somojoyo Prawiro dibangun:
Beliau juga menerapkan tradisi Tadong Dawuh (Sungkeman) setiap minggu di pendopo lurah untuk mendengarkan laporan dan aspirasi masyarakat dari setiap dusun.
Pada 1 Januari 1976, Somojoyo Prawiro mengundurkan diri karena faktor usia setelah memimpin selama 31 tahun.
Setelah pengunduran diri Somojoyo Prawiro, jabatan kepala desa sementara dipegang oleh Paidin, seorang purnawirawan TNI AD yang sebelumnya menjabat sebagai Petengan (Jogoboyo).
Beliau diangkat sebagai Pejabat Sementara Kepala Desa melalui SK tertanggal 31 Maret 1976.
Pada masa ini terbentuk:
Paidin menjabat hingga tahun 1981.
Pemilihan kepala desa secara langsung dan demokratis pertama kali dilaksanakan pada 23 Desember 1982.
Pemilihan menggunakan sistem pencoblosan. Supriyo memperoleh suara terbanyak dan resmi menjabat sebagai Kepala Desa Mojokrapak periode 1983–1992.
Supriyo dikenal sebagai kepala desa yang disiplin dan berhasil meningkatkan kualitas pelayanan masyarakat serta tata kelola pemerintahan desa.
Pemilihan kepala desa tahun 1992 diikuti oleh:
Sugiman Badari memenangkan pemilihan dan menjabat selama delapan tahun.
Pada masa pemerintahannya terjadi berbagai perubahan struktur perangkat desa melalui mekanisme ujian dan seleksi di tingkat kabupaten.
Jabatan beliau berakhir pada 22 Februari 2001.
Pemilihan kepala desa tahun 2001 diikuti oleh:
Abdul Ghofar memperoleh suara terbanyak dan terpilih sebagai Kepala Desa Mojokrapak.
Pada masa ini:
Masa jabatan Abdul Ghofar berakhir pada 4 April 2007.
Pemilihan kepala desa diikuti oleh:
H. Warsubi memperoleh suara terbanyak dan terpilih menjadi Kepala Desa Mojokrapak.
Pada masa pemerintahannya dilakukan berbagai pembenahan administrasi dan pembangunan desa. Jabatan Sekretaris Desa mulai diisi oleh unsur Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Karena keberhasilan pada periode pertama, banyak tokoh masyarakat dan tokoh agama mendukung H. Warsubi untuk kembali mencalonkan diri.
Pemilihan berlangsung kondusif dan demokratis. H. Warsubi kembali terpilih dengan perolehan suara yang sangat dominan.
Selain melanjutkan pembangunan infrastruktur desa, prestasi terbesar yang diraih adalah menerima penghargaan dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, sebagai Pembina Ketahanan Pangan Kategori Kepala Desa Tingkat Nasional.
Penghargaan tersebut diserahkan di Istana Negara pada 16 Januari 2015.
Karena keberhasilan pada periode pertama dan kedua, banyak tokoh masyarakat dan tokoh agama mendukung H. Warsubi untuk kembali mencalonkan diri.
Selain semakin pesatnya pembangunan infrastruktur desa,banyaknya terbuka lapangan pekerjaan, dan banyaknya suara dorongan dari para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh pendidikan untuk maju pencalonan Bupati Jombang, melihat akan banyaknya suara masyarakat Kabupaten Jombang seperti Desa Mojokrapak demi tujuan Kabupaten Jombang lebih MAJU, TENTRAM DAN SEJAHTERA. Kepala Desa H. WARSUBI Mengundurkan diri dari Jabatan Kepala Desa Mojokrapak.
Ditugaskannya Sekretaris Kecamatan Tembelang (Sekcam Tembelang) yakni Ibu Lia Apriliana Isna Sari, untuk mengisi kekosongan sementara Kepala Desa Mojokrapak dan melanjutkan visi misi kepala desa. Disamping itu pula dalam kurun waktu 6 bulan untuk segera membentuk tim panitia seleksi Kepala Desa Antar Waktu, dalam waktu yang hanya 6 bulan beliau sukses mengemban amanat menjadi PJ Kepala Desa dengan sangat baik.
Pemilihan kepala desa antar waktu yang diikuti oleh:
Beliau sampai saat ini adalah Kepala Desa Mojokrapak.
| Periode | Kepala Desa |
|---|---|
| 1895–1945 | Lurah Gandul |
| 1945–1976 | Somojoyo Prawiro |
| 1976–1981 | Paidin (Caretaker) |
| 1983–1992 | Supriyo |
| 1992–2001 | Sugiman Badari |
| 2001–2007 | Abdul Ghofar |
| 2007–2013 | H. Warsubi, SH., M.Si. |
| 2019–2024 | H. Warsubi, SH., M.Si. (Periode II) |
| 2019–2024 | H. Warsubi, SH., M.Si. (Periode III) |
| 2024-2025 | Apriliana Isna Sari, S.STP., M.Si. |
| 2025–2027 | H. Slamet Santoso, S.T. |

Data Populasi Desa Mojokrapak, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang
Laki-laki : 3772 ORANG
Perempuan : 3776 ORANG
TOTAL : 7548 ORANG
Laki-laki
Perempuan
BELUM MENGISI
TOTAL
KK
Dusun
Data APB Desa sebagai wujud transparansi Pemerintah Desa dalam mengelola keuangan
Rp 2.285.647.303,00
Rp 2.111.694.607,86
Rp 2.202.898.751,73
Rp 2.113.136.318,66
Rp -82.748.551,27
Rp 21.656.918,39
Rp 2.166.800,00
Rp 2.166.800,00
Rp 15.000.000,00
Rp 15.000.000,00
Rp 445.875.000,00
Rp 444.742.000,00
Rp 1.114.486.000,00
Rp 942.383.264,00
Rp 122.385.600,00
Rp 122.385.600,00
Rp 440.473.000,00
Rp 440.473.000,00
Rp 136.900.000,00
Rp 136.900.000,00
Rp 2.317.903,00
Rp 2.419.865,00
Rp 43.000,00
Rp 567.500,00
Rp 6.000.000,00
Rp 4.656.578,86
Rp 2.202.898.751,73
Rp 2.113.136.318,66
Detail


Danang
19 Oktober 2024 19:50:46
Selamat malam. Mohon dibantu, dan dijembatani, istri sy menjadi korban kecelakaan dari warga desa Mojokrapak,...